Khutbah Jumat Keutamaan Amal dan Jejak Amal
Khutbah Jumat: Keutamaan Amal dan Jejak Amal yang Mengalirkan Pahala
Wahai jamaah Jumat rahimakumullāh,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Ta‘ala dengan sebenar-benarnya takwa. Takwa adalah bekal terbaik dalam perjalanan hidup dan akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 197:
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى ۚ
“Berbekallah kamu, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)
🌿 Makna Amal dan Nilainya di Sisi Allah
Setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun, tidak akan sia-sia di sisi Allah. Allah berfirman:
فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
"لا تَحْقِرَنَّ مِنَ المَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ."
“Janganlah engkau meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walau hanya dengan bertemu saudaramu dengan wajah ceria.” (HR. Muslim no. 2626)
Amal yang Pahalanya Terus Mengalir (Ṣadaqah Jāriyah)
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sesungguhnya hidup ini adalah perjalanan yang singkat, namun jejak amal kita kekal setelah kematian. Setiap langkah, setiap kata, setiap sedekah — semuanya terekam di sisi Allah. Kita mungkin dilupakan manusia, namun amal tidak pernah dilupakan oleh Rabbul-‘Ālamīn.
﴿ إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ ﴾
Surah Yāsīn 36:12 “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan jejak-jejak yang mereka tinggalkan; dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata.”
Perhatikan, Allah tidak hanya mencatat “ma qaddamū” — apa yang mereka lakukan — tapi juga “āthārahum” — bekas yang mereka tinggalkan. Itulah amal jariyah, amal yang terus mengalir setelah jasad terkubur dalam tanah.
Sebagian amal tidak berhenti pahalanya meski pelakunya telah wafat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ."
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)
Itulah tiga jejak amal yang terus mengalir:
Sedekah jariyah — seperti membangun masjid, sumur, sekolah, atau wakaf Al-Qur’an.
Ilmu yang bermanfaat — seperti mengajar, menulis, atau mendidik generasi.
Anak saleh — yang terus mendoakan dan meneruskan kebaikan orang tuanya.
💧 Kisah Inspiratif: Utsman bin ‘Affan dan Sumur Raumah
Ketika kaum Muslim kekurangan air di Madinah, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang membeli sumur Raumah dan memberikannya kepada kaum Muslimin, baginya surga.” (Sirah Ibn Hisyam)
Utsman bin ‘Affan ra membeli sumur itu dan menghibahkannya. Dan hingga kini, sumur Raumah masih mengalir, menafkahkan airnya dan mengalirkan pahala untuk beliau — lebih dari 1.400 tahun!
Inilah bukti nyata bahwa amal yang tulus dan bermanfaat akan kekal jejaknya.
🌺 Menanam Amal Sebelum Terlambat
Setiap kita punya kesempatan meninggalkan jejak amal — tidak harus besar, tapi ikhlas. Menanam satu pohon, mengajarkan satu ayat, menolong satu orang, bahkan menulis satu kalimat kebaikan — bisa menjadi amal jariyah di sisi Allah.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas (jejak) yang mereka tinggalkan.” (QS. Yasin: 12)
Wahai jamaah yang dirahmati Allah, Mari kita gunakan waktu hidup ini untuk menanam amal yang terus berbuah pahala. Karena setelah ajal datang, tidak ada lagi kesempatan untuk menambah amal — hanya tersisa jejak yang kita tinggalkan.
🕌 Khutbah Kedua
الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. اللهم صل وسلم على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.
Ma‘asyiral muslimin rahimakumullāh,
Hidup ini singkat, namun jejak amal bisa abadi. Maka, jadikan setiap langkah kita berarti — baik dengan harta, tenaga, ilmu, atau doa.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ، أَوْ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا."
“Dunia itu terlaknat, dan yang ada di dalamnya pun terlaknat, kecuali yang digunakan untuk mengingat Allah, atau orang berilmu dan orang yang belajar.” (HR. Tirmidzi no. 2322)
Marilah kita isi hidup ini dengan amal yang bermanfaat bagi umat dan pahala yang terus mengalir hingga akhirat.
Doa Penutup:
اللهم اجعلنا من الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه، اللهم اجعل أعمالنا خالصة لوجهك الكريم، اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، اللهم ارزقنا حسن الخاتمة، وادخلنا الجنة بغير حساب ولا عذاب.
عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ
يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فاذكروا الله العظيم يذكركم واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.
Lampiran:
🌿 Kisah Utsman bin ‘Affan dan Sumur Raumah: Jejak Amal yang Abadi
Pada masa Rasulullah ﷺ di Madinah, kaum Muslimin hidup dalam kesederhanaan. Air — sumber kehidupan — menjadi kebutuhan paling penting. Saat itu, hanya ada satu sumur yang menghasilkan air segar, yaitu Sumur Raumah (بئر رومة).
Namun, sumur itu dimiliki oleh seorang Yahudi, yang menjual airnya dengan harga tinggi kepada kaum Muslimin. Mereka harus membeli air setiap hari, bahkan banyak yang tidak mampu membelinya.
🕊️ Seruan Rasulullah ﷺ
Melihat keadaan umatnya, Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabat:
"مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلُ دَلْوَهُ فِيهَا مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ، بِخَيْرٍ مِنْهَا لَهُ فِي الْجَنَّةِ؟"
“Siapakah di antara kalian yang mau membeli Sumur Raumah, lalu menjadikannya untuk kaum Muslimin — maka baginya sumur di surga?” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i)
💎 Kedermawanan Utsman bin ‘Affan
Mendengar seruan Nabi ﷺ itu, Utsman bin ‘Affan radhiyallāhu ‘anhu, seorang sahabat yang kaya, dermawan, dan berhati lembut, datang menemui pemilik sumur.
Ia berkata:
“Juallah sumur ini kepadaku agar bisa digunakan oleh kaum Muslimin.”
Namun si pemilik menjawab:
“Tidak! Sumur ini adalah sumber penghidupanku. Aku tidak akan menjualnya.”
Utsman tidak menyerah. Beliau kemudian menawar separuh hak kepemilikan sumur itu, agar kaum Muslimin bisa mengambil air secara bergiliran — satu hari untuk umat Islam, dan satu hari untuk si Yahudi.
Pemiliknya pun setuju. Pada hari giliran kaum Muslimin, mereka datang berbondong-bondong mengambil air sebanyak mungkin, bahkan menyimpannya untuk dua hari ke depan.
Melihat itu, si Yahudi menyadari bahwa tidak ada lagi yang membeli air pada gilirannya. Akhirnya ia datang kepada Utsman dan berkata:
“Belilah seluruh sumur itu dariku!”
Utsman pun menyetujuinya dan membeli sumur tersebut dengan harga 20.000 dirham, lalu menghibahkannya sepenuhnya untuk umat Islam, tanpa meminta balasan apa pun.
🌺 Rasulullah ﷺ Memuji Amal Utsman
Rasulullah ﷺ kemudian bersabda:
"مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ."
“Tidak ada yang dapat membahayakan Utsman atas apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad – dinilai hasan)
Artinya, amal tersebut begitu agung di sisi Allah, hingga menjadi jejak amal jariyah yang abadi.
💧 Jejak Amal yang Masih Hidup Hingga Kini
Yang menakjubkan, sumur Raumah itu masih ada hingga hari ini di Madinah. Pemerintah Saudi bahkan mendaftarkan tanah di sekitar sumur itu atas nama Utsman bin ‘Affan — dan hasil kebun kurma yang tumbuh di sekitarnya masih digunakan untuk amal sosial, termasuk membangun masjid dan membantu fakir miskin.
Bayangkan — lebih dari 1.400 tahun, amal itu terus mengalirkan pahala

Posting Komentar
Posting Komentar